Cerita dibalik Proses Isolasi Senyawa Tumbuhan
Well....
Udah jalan semester 5 aja nih di farmasi. Tujuan gue dari awal adalah untuk bisa mengenal dan mendalami lebih lanjut tentang produk kosmetik tapi... sampai semester ini i have nothing. Belum pernah dibahas serinci-rincinya tentang formulasi produk kosmetik.
dan di semester 5 ini program studi farmasi kampus gue mengadakan mini project skripsi ala-ala yakni mengisolasi senyawa murni dari tumbuhan. Semua ilmu di praktikum farmakognosi fitokimia 2 benar-benar terpakai.
Jadi kerjaan ini dimulai dari pemilihan sampel. Ada beberapa alasan lo memilih suatu bahan tumbuhan untuk diteliti dan diisolasi (diambil) suatu zat tunggalnya atau istilah kerennya senyawa murni. Jadi didalam tumbuh-tumbuhan kan banyak senyawa kimia alaminya tuh, nah di project ini kita diminta dapat mengambil satu senyawa murni.
Kedengerannya sih gampang ya, yaela cuman satu senyawa. Tapi prosesnya... 6 bulan loh.
Pemilihan sampel bisa didasarkan pada alasan karena ada tanaman dari satu famili atau genus yang sebelumnya diketahui manfaatnya begitu berlimpah, atau karena dia terkenal di suatu daerah untuk pengobatan penyakit tertentu dan masih banyak lagi alasannya (Untuk lebih tau, kuliah di jurusan farmasi ya)
Kemudian kita melakukan ekstraksi. Secara teori sih, diajarinnya dengan alat-alat canggih asal negeri nun jauh disana. Pokoknya semua pakai alat dan otomatis, tetapi karena praktikum di tempat kuliah, akhirnya dipilihlah cara maserasi.
Cara maserasi ini adalah cara termurah, termudah dan tersimpel. Kenapa murah? Karena lo cukup siapin alat atau wadah penampung, sampel tanaman dan cairan yang digunakan untuk lo ekstraksi. Mudah ya karena bahannya gampang didapat dan simpel karena ga butuh beragam alat canggih untuk dapat melakukannya
Sebelum sampel lo di ekstraksi, lo harus melalui proses yang namanya perajangan. Mudahnya itu, bahan tanaman yang mau lo teliti lo potong kecil-kecil kemudian di blender dan dijadikan serbuk gitu
Untuk ekstraksi ini ga asal-asal menambahkan sampel dan air murni biasa. Karena ini dilakukan dengan menerapkan begitu banyak ilmu sains didalamnya. cairan yang digunakan untuk mengekstraksi ini didasarkan pada keinginan lo untuk menarik senyawa apa, tergantung jenis senyawa yang mau lo murnikan.
Apakah polar, semipolar atau nonpolar? Cairan yang dipilih adalah yang kepolarannya sama seperti senyawa yang mau lo murnikan.
Terus sampel yang udah siap tadi, lo taro lah ke wadah toples gitu, dan tarolah cairan kimia yang digunakan untuk menyari atau menarik senyawa yang bermanfaat tersebut.
Gak cukup dari situ, setelah lo dapetin cairannya, lo harus membuang si cairan kimia tadi sehingga hasil akhirnya nanti adalah tinggal kumpulan senyawa kimia dalam tumbuhan dan gak ada lagi pelarutnya.
Proses ini dinamakan evaporasi.
Selama menjalani praktikum ini adalah yang memakan waktu dan emosi adalah menunggu giliran evaporasi karena minimnya alat dikampus gue. Selain itu, pada labu evaporasi nantinya akan tersisa berupa cairan lengket yang isinya senyawa kimia saja yang sulit diambil dengan spatula biasa.
Nantinya cairan kental itu ditaro di vial yang selanjutnya akan dilakukan proses identifkasi senyawa. Kira-kira senyawa yang ada pada sampel yang lo uji itu senyawa jenis alkaloid kah, terpenoid kah, atau ada minyak atsirinya kah atau ada steroidnya?
Setelah lo tau kira-kira senyawa lo mengandung apa, kita lanjut ke proses berikutnya yaitu kolom kromatografi
Diproses ini dilakukan pemisahan senyawa berdasarkan kemampuan absorbsi si sampel yang ditambah cairan kimia terhadap si silika gel. Prosesnya ini cukup nyita waktu sih soalnya butuh vial yang lumayan banyak dan prosesnya juga lumayan lama.
Setelah itu, masuk ke tahap kromatografi preparatif. Disini kalau praktikum gue itu bikin sendiri jadi yang harus disiapin itu kaca 4x4 cm terus kita bikin bubur silika gel gitu yang nanti di sebar atau dituang diatas kaca. Kita keringanginkan dan sehari sebelum penggunaan untuk di uji, di panggang atau di oven selama satu jam.
Nah nanti dipakai untuk nguji cairan yang ada di vial dan hasilnya jadi gini deh










0 komentar