Jadi mahasiswa
semester akhir membuka mata saya untuk melihat segala hal yang belum saya
ketahui. Sibuk dengan skripsi, tentu. Sibuk menentukan judul apa yang akan
dibuat dan bagaimana mencari rumah sakit untuk menjadi tempat penelitian. Ini
sungguh tidak mudah, Ferguso! Karena terluntang-lantung mencari tempat untuk
penelitian akhirnya saya mengambil kesempatan untuk mencari pekerjaan dan
voila, saya menjadi guru privat. Sebenarnya, ini adalah hal yang saya
idam-idamkan. Siapa yang tidak mau mandiri secara finansial dan membeli ini itu
tanpa izin? Dan dari sinilah saya
belajar mengenai uang.
Sebelumnya, I’m a mediocore
kids. Saya hanya tau beberapa cara jika
ingin mendapatkan sesuatu. Langka pertama adalah menabung dari sisa uang yang
diberikan orang tua. Kedua meminta secara langsung atau cara terakhir (yang
baru saya temukan di awal-awal kuliah saya), mengikuti kuis! Saya tidak punya
pengetahuan yang baik mengenai finansial atau dalam hal ini adalah uang. Yang saya
tau hanya bagaimana mendapatkan sebuah barang saja.
Tapi ternyata, bekerja
membawa saya kedalam dunia orang dewasa yang sesungguhnya. Yang katanya
menyeramkan... dan memang seperti itu adanya. Bahasa kerennya adulting is suck. Saya mengenal tanggung
jawab terhadap orang yang mempercayai saya dan memberikan saya gaji. Saya
belajar berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua dari saya. Dan yang
paling saya syukuri, saya belajar cara bernegosiasi. Yang saya baru tau, itu
ternyata penting juga untuk dikuasai.
Kembali lagi kepada
bahasan sebelumnya yakni tentang finansial. Saat saya menerima gaji pertama,
tentu senang bukan kepalang. Saya membeli beberapa buku dan majalah terbitan
luar yang saya idam-idamkan, saya membeli buku notes-notes tidak penting dan
beberapa hal tidak penting lainnya. Hal seperti ini berlangsung tanpa saya
fikirkan baik atau buruknya selama 4 bulan. Saya pun jadi boros, hambur dan saya
merasakan bahwa saya hidup dari paycheck ke paycheck selanjutnya. Tanpa ada
sisa ditabungan.
Saya memang merasa hal
itu adalah hal yang salah. Saya bahkan bercerita kepada teman saya yang sudah
dahulu bekerja sambil kuliah. Namun, dia rupanya lebih bijak secara finansial
dari pada saya atau istilahnya dia punya kemampuan sound financial management. Dari teman baik saya inilah saya
belajar bahwa saya perlu menyisihkan pendapatan untuk tabungan. Tapi,
saran dari dia tidak lantas membuat saya langsung mempraktekannya. Sulit sekali
menghilangkan keinginan belanja saat uang sedang ada. Jika dapat digambarkan
kondisi saya saat itu, maka prinsip, “selagi ada ya pakai saja” sangatlah
tepat. Saya tidak mengenal apa itu rasio 60% keperluan harian, 30% nabung dan
10% investasi atau segala rumus-rumus keuangan lainnya. Yang saya tau, selagi
ada ya saya habiskan. Maklum, ini pertama kali bagi saya bekerja dan memiliki gaji
bulanan.
Akhirnya, murid murid saya lulus dan melanjutkan studi keluar negeri. Saya
bangga bukan main. Prestasi yang sangat besar dihidup saya yang biasa-biasa
ini. Namun, berarti, saya harus kehilangan pekerjaan. Hal itulah yang
menjadi titik balik saya untuk fokus kepada penelitian saya. Ya, saya rasa semua ada hal baik
dan buruknya.
Selama saya tidak ada
pemasukan saya pusing bukan main. Mencari lowonngan kesana kemari untuk
mendapatkan pemasukan bulanan yang rutin. Namun disatu sisi saya kepalang
tanggung karena saya harus fokus untuk mencari data guna penelitian tugas
akhir. Dan pada akhirnya, saya memilih untuk fokus demi tugas akhir karena saya
fikir, untuk bagian hasil, mungkin akan ada kesempatan kerja lagi.
Dan selama itu, saya
merenung. Coba saja saya tidak boros dan tidak gagap dengan uang. Pasti saya
sudah punya tabungan yang lumayan dan untung-untung bisa membuka deposito
dengan setoran minimal. Pada saat tidak punya pekerjaan itu, saya juga mengenal
istilah financial literacy dan
belajar tentang bank lengkap dengan berbagai produknya. Sampai pada akhirnya, sosial media membawa saya mengikuti akun
financial adviser yang cukup vokal membahas cerita-cerita keuangan. Thanks to salah
satu tech vlogger yang saat ini sering berbagi hal-hal bermanfaat dan personal dalam
podcast-nya.
Kalau kata orang,
sedikit-sedikit lama lama menjadi bukit. Itu juga yang saya terapkan dalam
belajar menata keuangan. Saya belajar dari berbagai arah sedikit demi sedikit,
buku artikel jurnal sampai cara yang cukup menyenangkan yakni ubek ubek sosial media. Dalam kurun
waktu itu, saya belajar istilah istilah dalam keuangan dan permasalahan
financial, dan bagaimana hal itu mempengaruhi hidup seseorang. Saya merasa
beruntung pernah ada diposisi seperti ini karena dari situ saya belajar bahwa
mau tidak mau dan suka tidak suka, saya harus belajar dan mengenal tentang
uang. Semoga dengan bertambahnya pengetahuan semakin
menambah keberanian saya dalam mengambil keputusan terkait finansial.
Saya pun menemukan cara dasar yang sedang saya terapkan untuk mengatur
keuangan. Pertama, saya harus jujur terlebih dahulu dengan diri saya. Jika saya ada
kebiasaan buruk dalam penggunaan uang saya harus identifikasi dahulu dan
mencari cara untuk meninggalkan kebiasaan itu. Kemudian, saya perlu menggali
lagi tujuan saya dalam hal keuangan. Apakah untuk retirement, untuk beli rumah,
beli property, punya saham dsb. Hal itu saya juga masih pelajari dan fikirkan
matang-matang.
Selamat belajar!